Gowa — Harga beras terpantau masih tergolong tinggi. Berbagai upaya kini terus dilakukan untuk menekan harga bahan pokok itu dipasaran.

Sebagai langkah taktis, Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan bersama Pemprov dan Pemkab Gowa melakukan panen raya padi di Desa Mandalle, Kecamatan Bajeng Barat, Gowa, Senin (26/03/2024).

Kepala BI Sulsel Rizki Ernadi Wimanda mengatakan, komoditas padi memiliki peran yang sangat penting dalam ketahanan pangan dan inflasi di Sulawesi Selatan dan Indonesia secara nasional.

Kenaikan harga beras akibat kelangkaan pasokan atau gagal panen dapat mendorong laju inflasi secara signifikan. Faktor-faktor seperti kenaikan harga pupuk, benih dan input produksi lainnya juga dapat menyebabkan kenaikan biaya produksi padi yang berujung pada inflasi.

“Sebagai salah satu provinsi penghasil padi utama di Indonesia, produksi padi di wilayah Sulawesi Selatan juga berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan nasional,” kata Rizki dalam sambutannya di acara Panen Raya Padi, Senin (26/03/2024).

Oleh karena itu, menurut Rizki, stabilitas produksi dan harga padi di Sulawesi Selatan memiliki dampak besar terhadap ketahanan pangan dan pengendalian inflasi nasional.

“Kebijakan pemerintah dalam mengatur pasokan dan harga padi menjadi sangat penting untuk menjaga ketahanan pangan dan inflasi yang terkendali,” tambahnya.

Fenomena kenaikan harga beras di Sulsel sempat berlangsung beberapa waktu lalu, dipengaruhi produksi padi yang diperkirakan menurun hingga 53,70% (yoy) pada periode Februari hingga Maret 2024.

“Namun demikian, hal ini bersifat temporer, khususnya beras yang diperkirakan harganya akan menurun setelah periode Idul Fitri yang disebabkan adanya masa panen raya,” tukas Rizki.

Lebih lanjut, upaya Pengendalian Inflasi telah dilakukan dengan kebijakan 4 K, yaitu Keterjangkauan Harga dengan pelaksanaan GPM di 68 lokasi. Ketersediaan Pasokan dengan dukungan ketersediaan Saprodi (pupuk, bibit, obat). Kelancaran Distribusi dengan memastikan kelancaran distribusi hingga Komunikasi Efektif oleh seluruh Pemda Prov/Kab/Kota dalam menyampaikan informasi jadwal pelaksanaan GPM dan Program Pasar Murah kepada masyarakat.

“Bank Indonesia memiliki peran tidak langsung dalam menjaga ketahanan pangan komoditas padi melalui koordinasi bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta instansi terkait mencakup pengendalian inflasi, stabilisasi harga pangan yang dapat mendukung ketahanan pangan padi,” tutup Rizki.

Disisi pengendalian inflasi, BI Sulsel yang tergabung dalam TPID Se-Sulsel terus memperkuat sinergi dalam mendukung upaya stabilisasi harga beras. Upaya pengendalian inflasi beras dilakukan secara terintegrasi dari sisi Hulu dan Hilir dengan adanya sinergi antar Lembaga.

Menyitir Panel Harga Pangan Bapanas, rata-rata harga GKP di petani pada Maret 2024 berada di kisaran Rp6.790 per kilogram atau turun 3,67% dibandingkan harga rata-rata GKP di Februari 2024 sebesar Rp7.080 per kilogram.

Sementara itu, rata-rata harga beras medium hari ini berada di level Rp14.120 per kilogram dan beras premium Rp16.330 per kilogram.

Rata-rata harga beras tersebut masih di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp10.900 – Rp11.800 per kilogram untuk beras medium, dan Rp14.900 – Rp15.800 per kilogram untuk beras premium.

TITIP BALASAN