Makassar-Momentum pemulihan ekonomi global masih terus berlanjut, di tengah ketidakpastian pasar keuangan yang masih tinggi, yang dipengaruhi berbagai gejolak geopolitik. Pada tahun 2024, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melandai dari 3,1% (yoy) menjadi 3,0% (yoy).

Laju Inflasi global sudah mulai sudah berada pada tren penurunan. Walau demikian, suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, Fed Fund Rate (FFR) diperkirakan baru akan mulai turun pada Semester II 2024. Sehingga saat ini nilai Dolar Amerika Serikat masih tinggi yang menyebabkan depresiasi nilai tukar di seluruh negara berkembang dunia di tengah terbatasnya arus modal asing yang masuk.

[OVERVIEW PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA]

Di tengah gejolak perekonomian dunia, Ekonomi Indonesia tumbuh melambat di tahun 2023, yaitu sebesar 5,05% (yoy), lebih rendah daripada capaian pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 yang tercatat sebesar 5,31% (yoy). Pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh permintaan domestik dari sisi Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi.
Tetap baiknya permintaan domestik ekonomi Indonesia di tahun 2023 tercermin dari sejumlah indikator seperti Indeks Keyakinan Konsumen, Indeks Penjualan Riil, dan PMI Manufaktur tahun 2023 yang berada di zona optimis. Hal ini masih perlu didorong untuk mendukung berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional.
Pada tahun 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan tetap kuat di tengah masih tingginya ketidakpastian global, dengan perkiraan mencapai 4,7% – 5,5% (yoy), menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Laju pertumbuhan Ekonomi Indonesia di tahun 2024 diperkirakan masih akan didorong oleh permintaan domestik, baik di konsumsi rumah tangga maupun investasi.
Laju Inflasi nasional tahun 2024 diperkirakan tetap terkendali dan rendah. Pada tahun 2024, Pemerintah Indonesia menargetkan inflasi dalam rentang 2,5±1%, dari yang sebelumnya 3,0±1%. Dalam mewujudkannya, berbagai sinergi terus diperkuat, salah satunya melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang telah dilaksanakan sejak tahun 2022.
Nilai tukar Rupiah dijaga tetap terkendali didukung oleh kebijakan stabilisasi Bank Indonesia, demikian juga dengan Neraca Pembayaran Indonesia yang tetap baik untuk mendukung ketahanan eksternal. Pada tahun 2024, kita harapkan defisit transaksi berada pada kisaran 0,1% – 0,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Demikian pula dengan kredit yang ditargetkan tetap tumbuh tinggi untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi, yang kita targetkan akan berkisar antara 10-12% pada tahun 2024.
Seluruh prospek perekonomian tersebut tidak terlepas dari kuatnya sinergi respons bauran kebijakan ekonomi Nasional yang konsisten untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan.

  1. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Maret 2024 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%. Keputusan mempertahankan BI-Rate pada level 6,00% tetap konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stability, yaitu untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1% pada 2024. Kebijakan makroprudensial yang pro growth juga terus ditempuh untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

[OVERVIEW PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN]

Pada tahun 2023, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan tetap tumbuh positif, mencapai 4,51% (yoy). Capaian ini sedikit melambat dibandingkan tahun 2022 yang tumbuh sebesar 5,10% (yoy). Perlambatan utamanya didorong oleh penurunan kinerja sektor pertanian yang merupakan pangsa terbesar dalam perekonomian Sulsel sebagai dampak El Nino yang terjadi sejak semester II 2023. 

Dari sisi komponen permintaan, konsumsi Rumah Tangga tetap tumbuh positif pada tahun 2023, mencapai 4,30% (yoy), kendati melambat dibandingkan tahun 2022. Perlambatan mencerminkan perilaku wait and see konsumen di tengah ketidakpastian perekonomian.

[OVERVIEW INFLASI SULAWESI SELATAN]

Pada Maret 2024, Inflasi Sulawesi Selatan tercatat 0,38% (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi Februari 2024 yang sebesar 0,30% (mtm) namun masih di bawah inflasi Nasional Maret 2024 yang tercatat sebesar 0,52% (mtm).
Inflasi tersebut secara umum didorong oleh peningkatan permintaan masyarakat terutama di periode Ramadhan & Idul Fitri (sesuai pola historisnya), di tengah belum pulihnya pasokan. Untuk komoditas beras, bergesernya masa panen raya ke April 2024 berdampak pada terbatasnya pasokan dan tingginya harga beras di masyarakat. Demikian pula dengan telur yang masih mengalami kenaikan harga akibat tingginya harga jagung pakan. Terbatasnya pasokan cabai rawit pasca panen raya Januari – Februari 2024 juga turut andil dalam inflasi pada Maret 2024. Komoditi barang & jasa lainnya yang turut mempengaruhi inflasi bulan Maret 2024 yaitu Angkutan Udara, Emas Perhiasan, dan Rokok Kretek.
Namun demikian, masih tingginya pasokan komoditas tomat, ikan teri, cabai merah dan bawang merah menjadi faktor penahan inflasi yang lebih tinggi secara bulanan.
Sejalan dengan hal tersebut, secara tahunan inflasi Sulsel tercatat sebesar 2,75% (yoy), lebih rendah dibandingkan Nasional yang sebesar 3,05% (yoy). Laju8 inflasi tersebut masih berada pada rentang sasaran inflasi Nasional 2,5±1% (yoy). Pencapaian inflasi tersebut tidak terlepas dari sinergi berbagai pemangku kepentingan yang tergabung dalam kerangka Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

[PROYEKSI EKONOMI DAN INFLASI KE DEPAN]
Pada tahun 2024 perekonomian Sulawesi Selatan diperkirakan akan tumbuh pada rentang 4,5% – 5,3% (yoy), meningkat dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2023 yang tercatat sebesar 4,51% (yoy). Pemulihan sektor pertanian pasca El Nino serta berbagai dukungan program Pemerintah seperti Program Mandiri Benih diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan perekonomian Sulsel. Selain itu, peningkatan mobilitas masyarakat dan peningkatan aktivitas usaha juga diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Pada tahun 2024, tekanan inflasi diprakirakan akan terjaga di rentang sasaran 2,5±1% (yoy) seiring dengan perbaikan produksi pangan di tengah cuaca yang berangsur kondusif.
Meski demikian, penambahan Kabupaten Luwu Timur, Wajo, dan Sidrap dalam penghitungan IHK Sulsel perlu menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan, mengingat ketiga daerah tersebut masih mengalami defisit pada beberapa neraca komoditas pangan strategis.

[FAKTOR RISIKO INFLASI PADA SAAT HBKN RAMADHAN]

Secara spesifik menjelang HBKN Ramadhan dan Idul Fitri setiap tahunnya di mayoritas wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan, terdapat fenomena yang menarik, yakni peningkatan harga beberapa komoditas pangan bergejolak. Selama tahun 2020 – 2023, peningkatan tekanan inflasi terjadi di 5 Kabupaten/Kota IHK di Sulsel, yakni Kota Makassar, Kota Parepare, Kota Palopo, Kota Watampone, dan Kab. Bulukumba.
Adapun beberapa komoditas yang sering menjadi penyumbang inflasi bulanan selama periode Ramadhan dan Idul Fitri di Sulawesi Selatan antara lain angkutan udara, daging ayam ras, telur ayam ras, ikan bandeng, dan ikan layang. Sementara itu, secara tahunan komoditas yang sering menjadi penyumbang inflasi pada periode Ramadhan dan Idul Fitri adalah rokok kretek filter, air kemasan, udang basah, angkutan udara, minyak goreng, dan emas perhiasan.
Yang menarik adalah fenomena peningkatan harga menjelang HBKN Ramadhan dan Idul Fitri tersebut tidak didorong oleh kurangnya pasokan komoditas, melainkan akibat tingginya permintaan masyarakat yang memicu peningkatan harga oleh pedagang sejalan dengan tingginya ekspektasi inflasi konsumen.
Merespons fenomena kenaikan harga tersebut, berbagai upaya pengendalian inflasi terus dilakukan oleh berbagai pihak termasuk Bank Indonesia, yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan kerangka 4K (Ketersediaan Pasokan, Komunikasi Efektif, Kelancaran Distribusi, dan Keterjangkauan Harga). Pada Maret 2024, TPID se-Sulawesi Selatan mengadakan Gerakan Pangan Murah serentak di 12 Kabupaten/Kota yang menyediakan komoditas dengan harga di bawah pasar. Harapannya, hal ini dapat memitigasi tingginya inflasi bulanan pada masa Ramadhan.
Adapun untuk inflasi komoditi beras, diperkirakan harga beras akan berangsur normal pada pertengahan April 2024 paska lebaran Idul Fitri, seiring dengan panen raya di Wajo, Bone, Gowa, dan daerah-daerah produsen beras.
Selain itu, mengingat tingginya inflasi juga biasanya dipicu oleh tingginya harga distribusi, maka TPID Sulsel juga melakukan reaktivasi Mini Distribution Center (MDC) yang dapat menjamin ketersediaan komoditas dengan harga terjangkau akibat adanya subsidi biaya distribusi komoditas.
Berbagai kampanye “Belanja Bijak, Berdagang Berkah” juga terus digaungkan oleh berbagai pihak untuk mempengaruhi ekspektasi inflasi konsumen. Harapannya, masyarakat tidak perlu takut lagi akan keterbatasan pasokan atau tingginya komoditas yang memicu perilaku panic buying.

[KINERJA LAYANAN PUR PADA SAAT HBKN RAMADHAN]

Peningkatan kebutuhan uang Rupiah pada masa Ramadhan dan Idul Fitri juga menjadi perhatian Bank Indonesia. Pada Maret 2024, Bank Indonesia secara serentak menyelenggarakan Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) untuk memenuhi kebutuhan uang masyarakat pada periode Ramadhan dan Idul Fitri (RAFI). 

Pada tahun 2024, SERAMBI mengangkat tema “Bijak Gunakan Rupiah di Bulan Penuh Berkah”. Dengan kegiatan SERAMBI ini, kami ingin mengajak seluruh masyarakat untuk belanja bijak sesuai kebutuhan dan menabung serta berinvestasi untuk terus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui Rupiah.
Selama periode RAFI, BI Sulsel memproyeksikan kebutuhan outflow Rupiah sebesar Rp5,51 Triliun, yang terdiri dari Penarikan Bank, Kas titipan, Kas Keliling, dan Penukaran ke Bank Indonesia. Per 28 Maret 2024, realisasi penyaluran Rupiah melalui kas keliling adalah sebesar Rp6,63 Miliar dan penukaran Rp4,57 Miliar.
Kas keliling dilaksanakan sebanyak 17 kali selama periode Ramadhan, bekerja sama dengan 25 partisipan perbankan. Selain itu, program ini telah menyasar 5.050 penukar. Penukaran dilaksanakan di 75 titik di Kantor Perbankan se-Sulawesi Selatan dan 6 lokasi lain yaitu PT. Angkasa Pura I, BPK RI Provinsi Sulsel, Kantor Gubernur Sulsel, Pangkalan Utama TNI AL VI, Mako Batalyon A Pelopor, dan Kantor Walikota Makassar.
Selain itu, sebagai inovasi pemenuhan kebutuhan masyarakat menjelang Idul Fitri, maka kami merencanakan pelaksanaan kas keliling Peduli Mudik di Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar pada tanggal 2 – 3 April 2024.
BI Sulsel memastikan bahwa ketersediaan uang layak edar maupun uang hasil cetak sempurna untuk kebutuhan masyarakat saat ini masih tetap terjaga.

KINERJA SISTEM PEMBAYARAN PADA SAAT HBKN RAMADHAN]

Peningkatan konsumsi masyarakat pada tahun 2024, terutama menjelang HBKN Ramadhan terkonfirmasi dari kinerja beberapa indikator pada sistem pembayaran, baik dari kartu kredit, kartu ATM/kartu debit, uang elektronik, hingga QRIS.
Sepanjang awal tahun 2024, indikator sistem pembayaran (SP) terutama SP ritel di Sulsel terus bertumbuh. Transaksi penggunaan Kartu Kredit mencapai Rp837 miliar atau meningkat sebesar 39% (yoy). Dari sisi volume, terdapat kenaikan sebesar 14% (yoy) menjadi lebih dari 329 ribu kali transaksi. Peningkatan ini sejalan dengan jumlah kartu kredit di Sulsel yang tumbuh 1,21% (yoy) menjadi 373 ribu keping. Beberapa kebijakan Bank Indonesia seperti minimum payment sebesar 5% dan nilai denda keterlambatan pembayaran maksimal 1% mempengaruhi peningkatan transaksi kartu kredit.
Di sisi lain, jumlah kartu ATM/Debit mencapai 9,4 juta unit atau meningkat 16% (yoy). Namun, nominal dan volume transaksi Kartu ATM/D tahun 2024 masing-masing terkontraksi sebesar 10% yoy menjadi Rp37,4 triliun dan 5% yoy menjadi 31,3 juta kali. Dilihat berdasarkan jenis transaksinya, mayoritas Kartu ATM/D digunakan untuk transaksi transfer interbank dan tarik tunai.
Nominal dan volume transaksi uang elektronik tumbuh positif dibandingkan periode yang sama di tahun 2023. Nominal transaksi uang elektronik meningkat 15,7% yoy atau mencapai Rp1,3 triliun. Dari sisi volume transaksi, jumlah transaksi selama tahun 2024 mencapai 14 juta kali transaksi.
Transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) tumbuh paling signifikan dibandingkan instrumen yang kami sebutkan di atas. Sepanjang 2024, nilai transaksi mencapai Rp1,1 triliun (tumbuh 156% yoy) dengan volume 8 juta kali (tumbuh 116% yoy). Hal ini merupakan dampak dari perkembangan di sisi supply dan demand QRIS.
Per 15 Maret, jumlah merchant QRIS di Sulawesi Selatan mencapai 958.897 merchant sedangkan jumlah pengguna mencapai 1.096.234 orang. Tahun ini, kami berupaya untuk memperluas transaksi QRIS melalui kerja sama dengan Pemerintah Daerah pada sektor pariwisata serta efisiensi pembayaran Person-to-Government (P2G), khususnya untuk transaksi pajak daerah dan retribusi daerah dengan nominal di bawah 10 juta (sesuai batas transaksi QRIS). Selain itu, kami meyakini transaksi QRIS akan terus meningkat seiring beberapa kebijakan dan inovasi Bank Indonesia seperti pembebasan MDR bagi usaha mikro untuk nominal transaksi di bawah Rp100 ribu, penambahan fitur QRIS TUNTAS (Tarik Tunai, Transfer, dan Setor Tunai), serta perluasan QRIS Cross-Border yang sekarang sudah terwujud di Thailand, Malaysia dan Singapura.
Untuk mendorong akselerasi QRIS sepanjang Bulan Ramadhan, kami juga telah bekerja sama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) dan Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) di Sulawesi Selatan, melalui berbagai festival Ramadhan, seperti Pesta Kuliner RRI, Pasar Ramadhan Mappanyuki, Pasar Ramadhan Mulo dan lain-lain. Selama periode festival, baik merchant maupun konsumen yang bertransaksi menggunakan QRIS akan mendapatkan promo menarik (baik berupa potongan harga, suvenir maupun doorprize).
Selanjutnya, sehubungan dengan adanya Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama bertepatan dengan Idul Fitri 1445H/ Tahun 2024, kegiatan operasional di Bank Indonesia yang meliputi layanan penyelenggaraan sistem Sistem Bank Indonesia – Real Time Gross Settlement (BI-RTGS), Bank Indonesia – Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS), Sistem Bank Indonesia – Electronic Trading Platform (BI-ETP) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada tanggal 8 s.d. 15 April 2024 ditiadakan (tidak beroperasi). Selanjutnya, Bank Indonesia akan kembali membuka layanan seperti biasanya pada hari Selasa, tanggal 16 April 2024 sesuai jadwal yang berlaku. Adapun jadwal operasional Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan akan mengikuti jadwal operasional kantor pusat.

Memanfaatkan momentum Ramadhan yang penuh berkah ini, BI Sulsel juga terus mendorong pertumbuhan sektor perekonomian syariah yang ke depan diharapkan dapat menjadi motor penguat dan penggerak perekonomian Sulawesi Selatan. Pada tanggal 23 Maret – 1 April 2024, BI Sulsel mengadakan Pekan Ekonomi Syariah (PESYAR) Sulsel 2024 sebagai road to Festival Ekonomi Syariah (FESYAR) KTI 2024.
Kegiatan PESyar terdiri dari 4 (empat) kegiatan utama, yaitu: 1) Sharia Fair; 2) Sharia Forum, 3) Lomba, dan; 4) Hiburan.
Sharia Fair, berupa pelaksanaan Tren Hijab x IN2MF 2024 yang bertujuan untuk menampilkan berbagai fashion syariah dari desainer Nasional yang telah berkiprah hingga kanca Nasional. Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan transfer knowledge kepada UMKM Sulsel untuk meningkatkan skala produknya hingga skala internasional. Selain fashion show, pada Syariah Fair juga menyediakan Halal Corner, Sharia Finance Corner, ZIS Corner dan Pesantren Corner.
Pada Sharia Fair, kegiatan Tren Hijab x IN2MF 2024 dimulai pada 23 Maret 2024 hingga 1 April 2024. Acara ini merupakan kerja sama antara BI dengan IFC dan ArtPro, dan menghadirkan lebih dari 100 pelaku usaha dan desainer. Kegiatan ini diikuti berbagai desainer terkemuka Indonesia yang juga telah berkiprah di level Internasional maupun Nasional selaras dengan pelaporan yang telah disampaikan oleh Ketua IFC Chapter Makassar sebelumnya.
Kegiatan showcasing hingga hari ke-9 telah menarik lebih dari 11.000 pengunjung serta penjualan hingga Rp3,35 miliar. Lebih lanjut, total transaksi menggunakan QRIS pada Sharia Fair adalah senilai Rp2,01 miliar, atau 60,17% dari total transaksi.
Nilai tersebut jauh di atas target awal yang menyasar transaksi senilai Rp1 miliar selama 10 hari. Capaian ini menunjukkan optimisme dan antusiasme masyarakat pada pengembangan ekonomi syariah khususnya pada sektor modest fashion dan halal food, sehingga diharapkan dapat berdampak pada penguatan positioning Indonesia terhadap pasar global halal value chain.
Pada kegiatan Syariah Forum, telah dilaksanakan 3 (tiga) sesi talkshow yang diharapkan dapat menjadi forum dan wadah bagi pelaku usaha dan penggiat ekonomi syariah di Provinsi Sulawesi Selatan dalam meningkatkan kapasitas usaha, hijrah menuju produk dan proses bisnis yang halal, serta wadah diskusi antara regulator, komunitas, dan pelaku usaha.
Kegiatan talkshow tersebut dihadiri oleh lebih dari 300 peserta. Pada setiap kegiatan juga dilakukan screening pre-test dan post-test pemahaman materi ekonomi syariah yang dipaparkan. Pelaksaan syariah forum di tahun 2024 ini semakin baik, terlihat dari meningkatnya pemahaman peserta yang tercermin dari skor survei pemahaman yang diselenggarakan tahun ini.
Harapannya, PESYAR Sulsel 2024 dapat menjadi katalisator atau Hamzah Washol dari pengembangan halal food & beverages serta modest fashion di Provinsi Sulawesi Selatan.

TITIP BALASAN